
Saturday, October 2, 2010
indahnya ukhwah...

Thursday, September 23, 2010
ILMU dan AMAL.....
salam alaiykh...buat diri ku dan seluruh umat islam & makhluk ALLAH di pelusuk bumi ini...
Saturday, September 18, 2010
Petua Mencuci Hati
Berikut adalah beberapa petua untuk kita membersihkan hati kita yang dihinggapi beberapa penyakit negatif. Petua ini di ulas dan dikeluarkan oleh Dato' Dr. Hj Fadzilah Kamsah. Sama-sama kita renung dan amalkan.
1. Dirikan solat dan banyakkan berdo'a - Ini adalah salah satu kaedah yang sungguh berkesan. Semasa berdo'a turut katakan "Ya,Allah jadikan hatiku bersih"
2. Selawat keatas Nabi Muhammad s.a.w paling minima 100 X sebelum tidur – Ini merupakan satu pelaburan yang mudah dan murah. Disamping dosa-dosa diampunkan, otak tenang, murah rezeki, orang sayangkan kita dan mencetuskan semua perkara kebaikan.
3. Solat Taubat - Selain daripada memohon keampunan, dapat mencuci hati dan menenangkan minda.
4. Membaca Al-Quran - Selain dapat mencuci hati juga menenangkan jiwa, penyembuh, penenang, terapi. Sekurang- kurangnya bacalah "Surah Al-Ikhlas" sebanyak 3X.
5. Berma'af-ma'afan sesama kawan setiap hari - Semasa meminta maaf perlu sebutkan.
6. Bisikan kepada diri perkara yang positif - Jangan sesekali mengkritik, kutuk diri sendiri, merendah-rendahkan kebolehan diri sendiri. katakan lah "Aku sebenarnya......(perkara yang elok-elok belaka)
7. Program minda/cuci minda - Paling baik pada waktu malam sebelum tidur, senyum, pejam mata, katakan di dalam hati "Ya, Allah cuci otak aku, cuci hatiku, esok aku nak jadi baik, berjaya, ceria, bersemangat, aktif, positif". Menurut kajian psikologi, apa yang disebut sebelum tidur dapat dirakamkan sepanjang tidur sehingga keesokan harinya - CUBALAH!!).
8. Berpuasa - Sekiranya dalam berpuasa terhindar dari melakukan perkara-perkara kejahatan.
9. Cuba ingat tentang mati (Sekiranya hendak melakukan sesuatu kejahatan, tidak sampai hati kerana bimbang akan mati bila- bila masa).
10. Kekalkan Wuduk.
11. Bersedekah.
12. Belanja orang makan.
13. Jaga makanan - jangan makan makanan yang syubhat.
14. Berkawan dengan Ulama.
15. Berkawan dengan orang miskin (menginsafi).
16. Pesan pada orang, jadi baik.
17. Menjaga pacaindera (mata, telinga, mulut...dsb), jangan dengar orang mengumpat.
Semoga para pembaca dapat mengamalkan dan tenang dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Wassalam.
Wednesday, September 1, 2010
DETIKNYA..SEMAKIN DEKAT...(^_^)
Ciri-ciri Lailatul Qodr
Ciri-ciri Lailatul Qodr
Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾
Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)
Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾
Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)
Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :
1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)
Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)
Perbedaan Waktu Antar Negara
Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).
Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)
Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)
Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.
Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.
Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”
Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)
Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.
Wallahu A’lam
sumber: eramuslim..[LINK]
Friday, August 27, 2010
PANTAS BERLALU
Assalamualaikum...wbt...Thursday, August 26, 2010
..::Nuzul Quran: Kitab Allah Bukan Sekadar Untuk Dibaca::..
Tanggal 17 Ramadhan merupakan satu tarikh yang selalu diperingati oleh umat Islam. Pada tarikh inilah masjid-masjid dipenuhi dengan ceramah dan media massa terutamanya televisyen tidak akan terlepas menyiarkan rancangan atau kuliah sempena memperingati Nuzul (penurunan) Al-Qur’an. Majlis Tilawah Al-Qur’an juga tidak pernah ketinggalan diadakan bersempena meraikan bulan yang penuh keberkatan ini. Ratusan ribu dibelanjakan setiap tahun semata-mata untuk memperdengarkan bacaan Al-Qur’an oleh peserta-peserta yang bersaing merebut gelaran Qari atau Qari’ah.Pendek kata, pelbagai program tak putus diadakan sempena menyambut tarikh penurunan Al-Qur’an ini. Bagi kebanyakan individu pula, pada bulan inilah mereka berusaha bersungguh-sungguh untuk menghabiskan bacaan 30 juzuk Al-Qur’an sebagai satu kelaziman.Alhamdulillah..indahnya...
Memang benar bahawa setiap Muslim sepatutnya memperingati tarikh penurunan Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur’an adalah petunjuk (huda) dan pembeza (furqan).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeza (antara yang haq dan yang bathil)” [TMQ al-Baqarah(2):185].
Adakah Al-Qur’an Sekadar Untuk Diperingati dan Dibaca?
Sempena Nuzul Al-Qur’an ini, marilah kita dengan penuh iman dan taqwa memuhasabah diri kita, apakah kita selama ini telah mengambil Al-Qur’an sebagaimana yang Allah perintahkan, atau selama ini kita hanya beriman dengan sebahagian dari Al-Qur’an atau justru telah mengabaikan Al-Qur’an? Apakah selama ini Al-Qur’an telah benar-benar kita jadikan petunjuk, sumber hukum, sekaligus sebagai penyelesai segala masalah kehidupan kita? Ataukah sebaliknya, kita malah meninggalkan dan mencampakkannya? Kebanyakan kita berusaha menjaga fizik Al-Qur’an. Kita tidak akan meletakkan Al-Qur’an di lantai atau di kerusi atau lain-lain tempat yang kita rasakan tidak sesuai.
Kita akan marah jika mendapati sesiapa sahaja yang tidak‘menjaga’ Al-Qur’an. Kita turut sensitif dan merasa amat marah apabila mendengar dan melihat Al-Qur’an dipijak,dibakar atau dibuang di dalam tandas. Kita juga tidak akan berdiam diri jika Al-Qur’an dihina, diremeh atau dipermainkan di dalam apa bentuk sekalipun. Kita memangakan menjaga kemurnian Al-Qur’an dari segala bentuk penodaan dan pemalsuan. Segala usaha ini sangat baik dan memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kita yang harus kita tunaikan. Namun, kita sering hanya berhenti sebatas ini sahaja. Umat Islam berusaha untuk menjaga fizik Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha untuk memahami isikandungannya dan menerapkan hukum-hakamnya.
Umat Islam marah apabila Al-Qur’an dihina, tetapi mereka sendiri ‘menghina’ Al-Qur’an dengan tidak mengamalkan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Umat Islam sakit hati apabila Al-Qur’an dikatakan telah ketinggalan zaman,tetapi mereka sendiri telah berzaman meninggalkan ajaran Al-Qur’an.Inilah hakikat umat Islam! Mereka mengambil Al-Qur’an hanya sebagai sebuah kitab yang ‘wajib’ dibaca tetapi melemparkan segala hukum-hakam yang ada di dalamnya.Para pemerintah kaum Muslimin membaca Al-Qur’an tetapi mereka mencampakkan segala perintah dan larangan Allah yang ada di dalamnya. Mereka mengadakan pelbagai program untuk membaca Al-Qur’an tetapi dalam masa yang sama mereka tidak berhukum dengan hukum Al-Qur’an, malah lebih buruk mereka memerangi dan menangkap sesiapa sahaja dari golongan umat Islam yang ikhlas berjuang menegakkan hukum Al-Qur’an.
Mereka kononnya menyeru kepada Al-Qur’an tetapi mereka sebenarnya cukup anti dan takut kepada golongan yang benar-benar berusaha untuk mengembalikan hukum Al-Qur’an. Bukan setakat itu, mereka malah menganggap bahawa golongan yang ingin menegakkan agama Allah sebagai penjenayah yang mesti dihapuskan. Maha Suci Allah yang memuliakan golongan yang berdakwah kejalanNya dan semoga Azab Allah menimpa golongan yang menghalang penerapan syariatNya.
Wahai kaum Muslimin!
Kami ingin mengingatkan kalian bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, malah lebih dari itu. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah (sunat) dan InsyaAllah kita akan beroleh pahala kerananya, tetapi mengamalkan isi kandungannya adalah WAJIB dan sesiapa sahaja mengabaikannya maka ia telah berdosa besar dan Allah jualah yang Maha Membalas segala dosanya. Siapa sahaja yang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah telah turunkan, maka azab Allah menantinya di akhirat! Bagi mereka yang tidak memikul amanat Allah yang telah diturunkanNya melalui Al-Qur’an, maka Allah telah membuat satu perumpamaan yang hina ke atas mereka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya(tidak mengamalkan isinya), adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”. [TMQ al-Jumu‘ah (62):5].
Melalui ayat di atas, Allah menghina kaum yang tidak memikul wahyu yang diturunkanNya dengan perumpamaan seperti keldai. Bayangkanlah jika ada orang yang mengatakan kepada kita, “Anda ini seperti keledai! ”Apakah perasaan kita? Apalagi yang menyatakan seperti itu bukanlah manusia, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita harapkan keredhaan dan keampunanNya.Orang yang benar-benar beriman, bertakwa dan mengharapkan redha Allah sudah tentu akan merasa takut dan gentar akan perumpamaan yang dibuat olehNya.
Kembali Kepada Al-Qur’an Dengan Cara Yang Benar
Wahai kaum Muslimin!
Marilah kita akhiri sikap yang tidak sepatutnya terhadap Al-Qur’an. Kuburkanlah segala kesalahfahaman kita tentang Al-Qur’an. Mari kita jadikan Ramadhan dan Nuzul Qur’an ini sebagai momentum untuk kembali kepada fahaman yang benar terhadap Al-Qur’an.Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meneguhkan tekad kita untuk senantiasa memuhasabah diri kita dengan Al-Qur’an; membaca, memahami dan menghayati maknanya; mengamalkan isi kandungannya;serta menjadikannya sebagai sumber hukum untuk mengatur segala urusan kehidupan kita dan sumber penyelesaian atas seluruh masalah kita; seterusnya menerapkan segala isi kandungannya di dalam bentuk per individu, bermasyarakat dan bernegara. Al-Qur’an adalah Kalamullah yang mengandungi seluruh hukum-hakam bagi kehidupan manusia.
Di dalamnya terdapat hukum-hakam yang mengatur seluruh interaksi samada manusia dengan Al-Khaliq, manusia dengan manusia yang lain mahupun manusia dengan dirinya sendiri. Al-Qur’an mengandungi hukum-hakam tentang aqidah dan ibadah; tentang mua’malat dan uqubat;tentang akhlaq, pakaian dan makanan. Menerapkan hukum di dalam Al-Qur’an adalah wajib, meninggalkannya adalah berdosa.
Sedarlah wahai saudaraku, Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam berpesan kepada kita, siapa saja yang meletakkan Al-Quran sebagai pemimpin di depannya nescaya ia akan memimpinnya kesyurga, sebaliknya, siapa saja yang meletakkan Al-Quran di belakangnya, nescaya ia menjerumuskannya ke dalam neraka. Na'uzu billahhi minzalik...
sumber: posting seorang sahabat dekat FACEBOOK...